Ki Ageng Wonolelo merupakan cikal bakal Pondok Wonolelo. Upacara Saparan Wonolelo merupakan wujud dari penghormatan masyarakat pendukung upacara tersebut terhadap leluhurnya, yakni Ki Ageng Wonolelo. Termasuk di sini adalah benda-benda sakti peninggalan Ki Ageng Wonolelo. Siapa Ki Ageng Wonolelo itu ?

“Menurut cerita Ki Ageng Wonolelo masih keturunan langsung Prabu Brawijaya V. Salah seorang putra Brawijaya V yang bernama Bracakngilo disertai Syech Maulana Magribi pergi berkelana ke arah barat. Pada waktu itu berkembang kerajaan Islam di Demak dan kerajaan Majapahit mulai terdesak.

Dalam berkelana tersebut, keduanya sampai di sebuah pedukuhan yang disebut Karanglo (konon termasuk wilayah Yogyakarta). Pangeran Bracakngilo bertempat tinggal di tempat tersebut, yang kemudian dikenal dengan sebutan Ki Ageng Karanglo.

Pada waktu itu keadaan Gunung Merapi selalu mengeluarkan lahar. Ki Ageng Karanglo sangat mengkhawatirkan keselamatan penduduk yang tinggal di sekitarnya. Ia kemudian pergi meninggalkan Pedukuhan Karanglo menuju utara untuk menolong pendudk yang tinggal di sekitar lereng Merapi. Ia mencegah agar lahar Merapi tidak mengalir ke selatan. Untuk itu Ki Ageng Karanglo kemudian bertempat tinggal di Pedukuhan Turgo dan usahanya untuk menyelamatkan penduduk dari ancaman lahar Merapi berhasil. Sejak saat itu ia juga disebut Ki Ageng Turgo atau Syech Jumadilkobra. Ki Ageng Turgo dan Ki Ageng Karanglo berputra 4 orang, dua di antaranya kemudian dikenal dalam dongeng-dongeng adalah Syech Kabi dan Jimat.

Masing-masing kemudian berputra, dan putra Syech Kabi yang bernama Ki Jumadiguna yang kemudian bertempat tinggal di Pedukuhan Wonolelo yang sampai sekarang dikenal sebagai Ki Ageng Wonolelo. Diberikannya nama Wonolelo bermula karena pada waktu Ki Jumadiguna masih berada di Turgo bila melihat kearah tenggara tampak ada hutan (wana) yang jelas (ngelela). Ki Jumadiguna kemudian datang ke hutan dan membuka hutan tersebut (babad alas). Tempat tersebut kemudian dijadikan tempat tinggalnya dan diberi nama Pondok Wonolelo. Namanya kemudian disebut Ki Ageng Wonolelo. Di tempat tersebut beliau menyebarkan agama Islam. Untuk menampung muridnya yang semakin banyak didirikan pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Wonolelo.

Menurut dongeng Ki Ageng Wonolelo mempunyai hubungan kekerabatan dengan Ki Ageng Gribig atau Ki Wasibagena Alit yang dimakamkan di Jatinom Klaten. Keduanya satu keturunan Prabu Brawijaya V. Di samping itu keduanya juga satu perguruan dengan berguru kepada Syech Jumadilkobra kakak Ki Ageng Wonolelo sendiri.

Setelah selesai berguru mereka kemudian pergi berkelana. Singkat cerita Ki Jumadiguna kemudian menetap di Pondok Wonolelo, sedangkan Ki Wasubagena Alit bertapa di bawah pohon jati yang masih muda (Jatinom) yang terletak di wilayah Klaten. Sampai sekarang tempat tersebut disebut Jatinom dan Ki Wasibagena Alit dikenal dengan sebutan Ki Ageng Gribig”.

Oleh masyarakat pedukungnya, khususnya yang mempunyai alur keturunan, melakukan penghormatan terhadap kedua tokoh tersebut dengan menyelenggarakan upacara Saparan setahun sekali setiap bulan Sapar.

Pelaksanaan upacara Saparan untuk menghormati Ki Jumadiguna di Pondok Wonolelo (lebih dahulu dilaksanakan karena dianggap lebih tua) dan satu minggu kemudian untuk menghormati Ki Wasibagena Alit dilakukan upacara Jokowiyu di Jatinom.

Perilaku manusia dalam melakukan upacara baik berupa slametan atau kenduri merupakan tindakan simbolis manusia untuk memohon perlindungan dan keselamatan bagi kehidupan manusia secara keseluruhan. Tidak terkecuali upacara Saparan Wonolelo khususnya lagi keturunan Ki Ageng Wonolelo. Melalui upacara tersebut memaknai adanya penghormatan terhadap leluhurnya yang telah memberikan sesuatu tempat dan sekaligus mengingatkan untuk mengamalkan ajaran-ajarannya. Upacara tersebut juga memaknai bahwa manusia selalu diingtkan akan asal-usul dan berterima kasih atas apa yang telah diterimanya.