Kampung empon-empon merupakan sebuah program yang telah dilaksanakan oleh warga Dusun Ngalian dalam rangka menanamkan edukasi tentang pentingnya tumbuhan bernilai ekonomis karena fungsinya sebagai pengobatan alternatif sekaligus mencanangkan gerakan penghijauan lingkungan. Di sisi lain, tumbuhan empon-empon ini juga diharapkan menjadi salah satu ikon yang dapat mendukung kekayaan identitas atau ciri khas di wilayah Ngemplak.

Program ini diawali dengan adanya identifikasi dari salah satu potensi di ranah sosial, yaitu dengan hadirnya Komunitas Kandang Kebo. Dari komunitas tersebut, dicetuskanlah sebuah upaya untuk melestarikan pengobatan alternatif yang disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Jawa. Adapun yang dimaksud dengan pengobatan alternatif itu diwujudkan dengan penggunaan jamu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Atas kesadaran tersebut, maka pada tanggal 29 April 2019 dicetuskan sebuah program bernama kampung empon-empon.

Kegiatan pada program kampung empon-empon ini terdiri dari tiga tahap, yaitu penanaman, pembuatan demplon, hingga pengolahan hasil. Dalam praktiknya, seluruh kegiatan melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung yang dimulai dari perencanaan kampung empon-empon, penanaman, pembuatan demplot, pengolahan hasil, pemanfaatan hasil, serta monitoring dan evaluasi terhadap program kampung empon-empon. Proses pelaksanaan program ini dilakukan secara gotong royong pada hari Minggu pukul 07.00-10.00 dan 16.00-17.30 WIB. Ketika tahap penanaman, masyarakat diwajibkan untuk memiliki polybag atau bibit. Salah satu hasil yang dapat dimanfaatkan dari kegiatan ini yaitu pengolahan kunyit bubuk yang dikonsumsi warga sendiri dan dijual. Untuk menjamin keberlanjutan program, maka dilakukan monitoring ketika tahap penanaman, pembuatan demplot, dan pengolahan hasil. Monitoring ini melibatkan pengurus yang dipusatkan pada demplot masing-masing RT. Selain untuk menjamin keberlanjutan program, monitoring berguna untuk saling berbagi informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan empon-empon. Setelah dilakukan monitoring, maka tahap berikutnya yaitu merumuskan sebuah evaluasi yang dilakukan setelah rangkaian kegiatan selesai. Sifat dari evaluasi ini spontan dan dilakukan ketika ada pertemuan. Tujuan dari evaluasi yaitu untuk menilai dan membenahi kegiatan yang telah dilaksanakan.

Dapat dikatakan jika bentuk partisipasi masyarakat yang terlibat dalam program kampung empon-empon ini terdiri atas dua hal. Pertama, bentuk partisipasi berupa buah pikiran melalui diskusi atau saling berbagi informasi tentang keseluruhan pelaksanaan program seperti penyusunan, penyesuaian, monitoring, hingga evaluasi atas kinerja yang telah dilakukan dalam mengupayakan tumbuhan empon-empon sebagai komoditas lokal. Kedua, bentuk partisipasi masyarakat berupa sarana dan prasarana seperti polybag, benih, pupuk, lahan, dan sebagainya. Kedua bentuk partisipasi tersebut tentu diupayakan dalam rangka mengusung konsep gotong royong sehingga program dapat berjalan dengan baik. Meskipun demikian, masih terdapat sedikit kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program ini. Kendala yang dimaksud yaitu berasal dari masyarakat sendiri yang pada awalnya belum sadar akan pentingnya fungsi tumbuhan empon-empon yang dapat mendukung penghijauan lingkungan serta nilai ekonomis yang terkandung dalam rempah-rempah karena dapat dimanfaatkan sebagai obat alternatif. Hal ini tampak dari adanya jadwal pelaksanaan di masa awal pengenalan program empon-empon yang sempat tidak berjalan dengan lancar karena terdapat sebagian warga yang masih apatis terhadap keberadaan tumbuhan empon-empon.  Selain itu, terkadang masih terdapat tumpang tindih dalam struktur organisasi program kampung empon-empon. Hal tersebut berimbas pada tidak seimbangnya tugas maupun wewenang dari setiap pengurus dan anggota ketika melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan. Namun, perlu diketahui juga bahwa kampung empon-empon kini mulai menjadi perhatian bagi warga Ngalian, Ngemplak, karena program ini merupakan salah satu implementasi dari adanya kesadaran kampung iklim. Adapun yang dimaksud dengan kampung iklim yaitu penguatan kapasitas adaptasi di tingkat dusun ketika menghadapi perubahan iklim. Hal ini terbukti adanya apresiasi dari pihak Dinas Lingkungan Hidup Sleman ketika sosialisasi Program Kampung Iklim dan Kalpataru pada Mei 2021. Di dalam sosialisasi tersebut, pihak Dinas Lingkungan Hidup Sleman berharap bahwa dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penanaman empon-empon, dapat meningkatkan kapasitas SDM yang peduli lingkungan serta mengoptimalkan potensi lokal dalam bidang agraria yang juda bernilai ekonomis.

Terdapat beberapa hal yang dapat menjadi refleksi dari hadirnya kampung empon-empon di Dusun Ngalian. Pertama, adanya semangat mewujudkan kampung berbasis iklim dalam rangka mengurangi dampak perubahan iklim yang sedang terjadi secara global. Tidak hanya berhenti di situ, cara lain yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Ngalian yaitu dengan menanam tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis dengan memilih jenis rempah. Ditambah lagi dengan adanya pelaksanaan program yang dilakukan dengan semangat gotong royong dari mulai perencanaan hingga monitoring serta evaluasi. Keseluruhan refleksi tersebut merupakan adanya wujud kebudayaan yang sejatinya tidak hanya hadir untuk menjunjung nilai-nilai ketradisionalan semata, namun adanya peningkatan sumber daya manusia dengan memanfaatkan potensi yang ada. Di bidang pengobatan herbal, kampung empon-empon dapat dijadikan sebagai salah satu ikon yang tidak hanya menunjang identitas wilayah setempat, namun menghasilkan potensi ekonomi demi kesejahteraan warga setempat.