Apem merupakan kue tradisional yang memiliki tekstur yang lembut dengan sedikit kenyal dan memiliki makna tertentu. Saiman, anggota Rohis Pondok Wonolelo menyatakan, kata apem berasal dari Bahasa Arab yaitu afuwwun yang berarti ‘ampunan’.
Apem dibagikan pada masyarakat pada saat upacara Saparan di Dusun Pondok Wonolelo, Ngemplak, Sleman. Penyebaran apem sendiri dilakukan di depan makam Ki Ageng Wonolelo setelah diadakannya tahlil bersama untuk memperingati Ki Ageng Wonolelo. Acara ini dilakukan pada bulan Sapar di sore hari diikuti oleh seluruh masyarakat Wonolelo dan sekitarnya. Peserta yang mengikuti acara ini dan berebut apem berharap mendapatkan berkah dan agar dalam kehidupannya berkeluarga selalu diberi kelancaran, damai, dan ketenangan serta supaya rezeki yang diperolehnya lancar. Tidak hanya itu saja, masyarakat membagikan apem sebagai bentuk syukur mereka terhadap Sang Pencipta. Sebanyak 1,5 ton apem diperebutkan ribuan masyarakat. Masyarakat juga menganggap bahwa bahwa dengan memperoleh dan makan kue apem yang dibagikan maka yang bersangkutan akan awet muda, bebas dari penyakit dan dapat menolak hama bagi petani.
Beberapa apem ada yang dibentuk menyerupai gunungan. Gunungan apem ini dibagikan pada acara adat Saparan Wonolelo yang diselenggarakan setiap tahun karena kue apem dianggap memiliki makna filosofis yang tinggi.
Pelengkap apem adalah ketan dan kolak. Ketiga jenis makanan tersebut jika digabungkan akan membentuk filosofi kehidupan, yaitu orang yang banyak bicara disimbolkan dengan kolak atau qola dalam bahasa Arab. Orang tersebut pastilah mempunyai banyak salah atau khilaf (disimbolkan dengan ketan), maka segeralah orang tersebut untuk meminta ampun (disimbolkan dengan apem).
Sejarah
Penyebaran apem dilakukan untuk memperingati dan mengapresiasi perjuangan Ki Ageng Wonolelo dalam menyebarkan Islam. Kegiatan ini digelar warga Dusun Pondok Wonolelo, Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman pada bulan Sapar atau bulan kedua dalam penanggalan Islam.
Ki Ageng Wonolelo atau dikenal Syeh Jumadigeno merupakan ulama besar pada masanya. Beliau menunaikan ibadah haji pada tahun Jawa 1511. Pada saat kepulangan beliau ke tanah Jawa, oleh-oleh yang dibawa Ki Ageng Wonolelo berupa roti gimbal kurang banyak ketika dibagikan pada masyarakat. Ki Ageng Wonolelo kemudian meminta kepada istrinya, Nyai Ageng, untuk membuat kue apem.
Setelah kue apem tersedia, Ki Ageng Wonolelo membagikan kue itu kepada para santri dan tetangga yang meminta buah tangan dari tanah suci. Tradisi ini yang kemudian dilestarikan oleh warga Dusun Pondol, Wonolelo setiap bulan Sapar. Apem dibagikan kepada warga yang datang berziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo.
Cara Pembuatan Apem
Apem merupakan makanan tradisional yang terbuat dari tepung beras dicampur dengan telur yang didiamkan semalam, santan, gula dan tape serta sedikit garam kemudian dibakar atau dikukus.
Festival Apem: Upaya Menjaga Kelangsungan Tradisi
Mengingat makna apem yang tinggi itu, masyarakat yang tergabung pada Forum Komunikasi UMKM Kapanewon Ngemplak berinisiatif untuk mengadakan Festival Apem. Acara ini digelar terlebih dahulu sebelum acara adat Saparan Wonolelo diselenggarakan. Nuradi, salah satu anggota Forum Komunikasi UMKM Kapanewon Ngemplak menyebut kegiatan ini dimaksudkan untuk mengukuhkan apem sebagai ikon jajanan khas Kapanewon Ngemplak. Sebab, menurutnya apem memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat Kapanewon Ngemplak. Festival Apem yang pertama diselenggarakan pada tanggal 22 Agustus 2022 dan mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peserta yang ikut serta dalam Festival Apem pertama tersebut.
Salah satu acara yang diselenggarakan saat Festival Apem adalah Deklarasi Festival Apem Kapanewon Ngemplak yang dibacakan oleh Ketua Forum Komunikasi UMKM Kapanewon Ngemplak. Deklarasi tersebut diantaranya mengusulkan Kapanewon Ngemplak sebagai sentra apem di Kabupaten Sleman, serta menjadikan apem sebagai menu makanan kecil yang wajib ada dalam setiap suguhan kudapan di Kabupaten Sleman.
Dari kisah di atas terlihat bahwa apem itu mempunyai filosofi berbagi dan berterima kasih kepada sang pencipta. Makanan hampir selalu hadir dalam berbagai ritus dan upacara untuk memanjatkan rasa syukur. Saparan sebagi ritual sudah ditetapkan ditetapkan sebagai WBTB. Sehingga di sini apem Wonolelo hendak diajukan sebagai kuliner WBTB. Walaupun apem ini ada di mana-mana di berbagai daerah di Jawa, tapi apem di daerah ini bisa dibuat unik dengan berbagai modifikasi seperti penambahan rasa dan aroma seperti rasa mocca, coklat dan lain-lain. Intinya adalah bahwa variasi dan kreasi baru dari makanan tradisional itu sah-sah saja apalagi jika menghasilkan narasi pemberdayaan dan peningkatan UMKM.