Batik Puspa Rinengga merupakan sebuah komunitas atau sanggar batik yang berbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Sanggar Batik Puspa Rinengga didirikan di Padukuhan Dalem, Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman pada Desember 2019. Tujuan didirikannya Sanggar Batik Puspa Rinengga untuk pemberdayaan ibu-ibu setempat dalam rangka meningkatkan perekonomian ibu-ibu yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan ibu rumah tangga. Arti dari nama dari Puspa Rinengga berasal dari kata Puspa yang berarti bunga dan Rinengga yang artinya dirangkai sehingga arti dari Puspa Rinengga adalah merangkai bunga menjadi sesuatu yang cantik. Selain itu, Sanggar Batik Puspa Rinengga juga berpotensi membawa Padukuhan Dalem supaya dikenal sebagai daerah penghasil batik atau padukuhan budaya melalui motif khasnya, yaitu motif Jangkang.
Motif Jangkang (Streculia foetida) atau dikenal juga dengan kepuh menjadi motif batik yang menjadi ciri khas batik Puspa Rinengga. Sanggar Batik Puspa Rinengga menggunakan bagian daun, batang, bunga, dan buah dari pohon jangkang sebagai motif batik khas mereka. Jangkang sendiri merupakan jenis pohon yang dapat tumbuh besar dan tinggi. Namun, saat ini pohon jangkang sudah semakin langka. Hanya terdapat satu pohon jangkang di Dalem yang terletak di kompleks makam. Keberadaan pohon jangkang identik dengan kesan angker dan dianggap sebagai tempat tinggal makhluk halus atau setan. Terlepas dari kesan tersebut, jangkang memiliki banyak khasiat karena seluruh bagian dari tanaman jangkang dapat dimanfaatkan. Terlebih lagi, pohon ini memiliki makna filosofis yang diceritakan dalam Trilogi Spiritualitas Soekarno. Pohon jangkang kemudian menjadi pohon ikonik di Dalem, Widodomartani, Ngemplak, Sleman.
Motif jangkang memiliki makna filosofis. Batang yang tinggi dan besar melambangkan pohon yang sudah tua dan kuat. Daun dengan susunan menjari sebanyak enam bagian melambangkan rukun iman. Buah dan bunga dengan kelopak yang berbagi lima laksana mahkota melambang rukun islam. Secara keseluruhan, makna filosofis dari motif jangkang melambangkan kekuatan, dimana ketika sudah mengimani rukun-rukun tersebut, maka diharapkan akan memiliki mentalitas yang kuat dan iman yang teguh.
Sejarah
Batik Puspa Rinengga didirikan atas inisiatif Ibu Suratmi, S.Sn atau Nyimas Ngabehi Renggomurti. Beliau seorang seniman yang menjadi Abdi Dalem Pura Pakualaman. Beliau ingin memberikan pengabdian kepada lingkungan tempat tinggalnya, yaitu Dalem melalui karya batik melalui ilmu dan pengalamannya dalam bidang selama puluhan tahun. Dukungan berbagai pihak, komitmen ibu-ibu setempat, serta kegigihan Ibu Suratmi diharapkan Batik Puspa Rinengga dapat semakin berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas.
Motif dan Pembuatan Batik
1. Motif batik
Desain motif batik diajarkan oleh Ibu Suratmi selaku pendiri dan guru Sanggar Batik Puspa Rinengga :
- Motif Jangkang sebagai motif khas dari Batik Puspa Rinenggo, termasuk Ceplok Jangkang,
- Motif Tetanen
- Motif Kupu-Kupu
- Motif hasil kreativitas para ibu-ibu anggota kelompok batik
2. Teknik Pembuatan:
Teknik pembatikan Sanggar Batik Puspa Rinengga murni menggunakan teknik batik tulis dan sedang mencoba mengembangkan teknik cap dan kombinasi untuk mempermudah proses pembuatan sehingga jika ada pemesanan maka proses pembuatan dapat dipersingkat.
3. Bahan Baku:
Mulai dari kain, malam, dan pewarna didapatkan secara swadaya dari modal kelompok Sanggar Batik Puspa Rinengga sendiri. Jenis pewarna ada yang garam dan naptol kemudian untuk proses pelorotan diperlukan kanji dan juga ada waterglass.
4. Alat-alat:
Alat untuk membatik ada canting dan kuas. Ada bak pewarnaan untuk proses pewarnaan dan meja cap untuk proses pembuatan batik cap.
5. Tata cara pembuatan batik :
Proses awal pembuatan batik dimulai dengan menggambar motif di kain lalu dilanjutkan melalui proses mencanting dengan malam. Setelah mencanting, dilanjutkan proses pewarnaan yang prosesnya dapat berupa celup dan colet. Proses pewarnaan menggunakan pewarna kimia. Setelah selesai pewarnaan kemudian dilakukan proses lorot. Jika yang diinginkan hanya satu warna berarti proses sudah selesai, tetapi apabila menginginkan lebih dari satu warna maka ditutup kembali menggunakan malam lalu diwarnai sesuai warna yang kita inginkan setelah itu baru dilorot lagi.
Pembagian tugas dalam pembuatan batik untuk menggambar dan membatik dikerjakan secara mandiri, sedangkan untuk proses pewarnaan dan pelorotan dikerjakan secara bersama. Pengerjaan secara bersama dilakukan seselesainya, apabila ada yang sudah selesai maka dikumpulkan terlebih dahulu, baru dilakukan proses pelorotan.
Produk Batik
1. Produk yang dihasilkan dari Batik Pusparinengga antara lain :
- Kain (berukuran 250 x 110 cm untuk bahan membuat pakaian)
- Selendang, digunakan penari atau scarf dengan ukuran yang lebih kecil dari kain
- Sajadah
- Gantungan kunci
2. Jenis batik:
- Batik Tulis
- Batik Cap
Penjualan masih terbatas melalui lingkup pameran. Namun, untuk pemesan karena masih terbatas alat dan bahan sehingga untuk proses produksi masih terbatas. Dengan adanya meja cap harapannya bisa mempercepat proses pembuatan itu. Pembelinya sendiri masih terbatas dari sekitar Yogyakarta.
Sebagaimana potensi ekonomi yang tampak dari keberadaan Batik Pusparingengga di atas, maka terdapat refleksi dan rekomendasi yang sekiranya dapat menjadi upaya menjadikan jenis kebudayaan ini dalam skema objek pemajuan kebudayaan. Pertama, bahwa batik pada dasarnya telah menjadi ikon masyarakat Indonesia karena memiliki kekhasan melalui keindahan corak disertai seluruh nilai-nilai filosofis di dalamnya. Kreativitas yang demikian juga tentu diikuti dengan minat masyarakat yang ingin menggunakan batik dalam acara-acara tertentu yang cenderung formal atau penting. Bagi masyarakat sendiri, dengan hadirnya Batik Pusparinengga ini dapat menjadi nilai komoditas yang dapat diperluas pasarnya hingga ke taraf internasional. Kedua, hadirnya Batik Pusparinengga merupakan salah satu ikon yang dapat dimanfaatkan untuk pemajuan identitas wilayah setempat melalui upaya-upaya pengenalan seperti festival batik yang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat.